Skip to main content

Full text of "10 Pembatal Keislaman"

See other formats


Tentang Buku: 

Judul Asli: Syarh Nawaqidul Islam 

Penulis: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan 

Penerjemah: Al-Ustadz Abu Hamzah Abdul Majid 

Penerbit Cahaya llmu Press, Yogyakarta 

Publikasi di internet: http://ulamasunnah.wordpress.com 

Kompilasi pdf: MAKTABAH AT-TAMIMI (http://maktabah-attamimi.bloqspot.com) 


Nos'tiurm ~ 







Pembatal Keislaman: Pendahuluan 


November 12, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan 

An Nawaqidh adalah jamak dari Naqidh, yang dimaksud adalah 
pembatal-pembatal, seperti nawaqidhul wudhu yaitu pembatal-pembatal wudhu. 
Pembatal-pembatal Islam dinamakan dengan nawaqidh, juga dinamakan dengan 
sebab-sebab kemurtadan atau jenis-jenis kemurtadan. Dan mengetahui 
pembatal-pembatal Islam tersebut adalah perkara yang sangat penting bagi setiap 
muslim dalam rangka menjauhinya dan berhati-hati darinya, karena apabila seorang 
muslim tidak mengetahuinya dikhawatirkan dia akan terjatuh kepada sesuatu darinya 
dan ini termasuk perkara yang sangat berbahaya, karena hal tersebut adalah 
pembatal-pembatal Islam. Oleh karena itu mengetahui sebab-sebab kemurtadan dari 
Islam adalah perkara yang sangat penting sekali. 

Murtad dari Islam maknanya mencabut kembali keislamannya, diambil dari fi’il 
madhinya irtadda (dia telah murtad) apabila dia mencabut kembali keislamannya. 

Allah ta’ala berfirman: 

1 jjlilia 

"Dan janganlah kalian kembali (lari) ke belakang (karena takut kepada musuh) 
maka kalian menjadi orang-orang yang merugi." (Al-Maidah: 21) 

Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman: 


(Y i V) OjilH 

"Dan barangsiapa yang murtad diantara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam 
kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat dan 
mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah: 217) 

Ini merupakan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang beriman, 
(Dan barangsiapa yang murtad diantara kalian) wahai orang-orang yang beriman (dari 
agamanya lalu dia mati dalam kekafiran) dan tidak bertaubat sebelum kematiannya dan 
kembali kepada Islam, maka sungguh (sia-sia amalan mereka) yaitu batal 
amalan-amalan mereka (di dunia dan di akhirat, mereka itulah penghuni neraka, 


mereka kekal di dalamnya.) 
Allah berfirman: 





(Y > ) ^jl^l Alii 1 ^9Aj«sa Ujjju <J^3 j <C.Ua 

"Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) 
sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syetan telah menjadikan mereka rendah 


(berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad: 25) 


*3^ 34^3-°^ ^ ^ (^1) t — $ jj -^9 3^ 3*° I^13 1^3 Ij 


"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian murtad dari 
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai 
mereka dan mereka pun mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang 
yang beriman, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir." (Al-Maidah: 54) 

(Dan barangsiapa yang murtad dari agamanya) yaitu mencabut kembali 
agamanya, dalam ayat ini terdapat peringatan yang keras dari kemurtadan dan 
ancaman atasnya. 


Adapun (dalil-dalil) dari al Hadits: 

Maka sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda: 


jjtLal! -AAUill j& IjiA— AjjjJ liljllllj cj 4^1^11 - _ nMl ;33lj 3■ .■ ^ V 


<C.Lakll 


"Tidak halal darah seorang muslim melainkan dengan salah satu dari tiga perkara: 
(1) orang yang telah menikah berzina, (2) jiwa dengan jiwa (qishosh), (3) orang yang 
meninggalkan agamanya -ini sisi pendalilannya- memisahkan diri dari al jama’ah." (HR 
Al Bukhari dan Muslim) 

Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: 
a 3^ 3** 

“Barangsiapa mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah dia." (HR. Al 
Bukhari) 

Apabila yang murtad adalah satu kelompok yang memiliki kekuatan maka mereka 
diperangi, sebagaimana Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu 'anhu memerangi 
orang-orang yang murtad, sehingga beliau menundukkan mereka kepada Islam dan 
terbunuhlah sebagian mereka di atas kemurtadannya dan bertaubatlah sebagian 
mereka. Maka dengan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu memerangi mereka, hal itu 
membenarkan firman Allah: 




"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian murtad dari 
agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai 
mereka dan mereka pun mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang 
yang beriman, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan 
Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela." (Al-Maidah: 54) 

Para ulama berkata: "Ayat ini turun mengenai Abu Bakar dan para sahabatnya 
yang memerangi orang-orang murtad, karena dalam ayat ini Allah mengabarkan 
tentang perkara yang akan datang (barangsiapa yang murtad) ini tentang perkara yang 
akan datang (maka kelak Allah mendatangkan) Alah mendatangkan Abu Bakar Ash 
Shidiq radhiyallahu 'anhu dan para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, 
kemudian mereka memerangi orang-orang murtad. 

Namun apabila yang murtad adalah satu individu, maka dia diambil dan dimintai 
taubatnya, jika dia bertaubat diterima taubatnya, jika enggan maka dia dihukum 
dibunuh. Orang ini berbeda dengan orang yang asalnya memang kafir, karena orang 
yang murtad mengetahui kebenaran dan dia masuk ke dalam agama Allah dengan 
pilihan dan ketundukannya, dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama yang benar. 
Apabila dia murtad maka ini adalah sikap mempermainkan agama dari orang tersebut, 
karena dia mengetahui kebenaran dan masuk ke dalamnya, apabila dia murtad maka 
dia dihukum dibunuh dalam rangka menjaga akidah, dan ini merupakan penjagaan 
terhadap Adh Dhoruriyaatul Khomsi (perkara-perkara penting yang lima) , yang 
pertama yaitu agama. 

Maka agama ini tidak boleh ditinggalkan karena bermain-main, bagi orang yang 
masuk Islam kemudian murtad, bahkan dia dibunuh sebagai penjagaan terhadap akidah 
dari permainan. Ada diantara orang-orang yang murtad dibunuh tanpa dimintai 
taubatnya, hal itu disebabkan karena besarnya kemurtadannya, dia dibunuh tanpa 
dimintai taubat sebagai penjagaan terhadap agama yang merupakan perkara pertama 
dari lima perkara penting yang Islam datang untuk menjaganya. 

Mempelajari pembatal-pembatal ini sangat penting, para ulama menyusun 
karya-karya yang berkenaan dengannya, dan mereka menjadikan (pembahasan 
tentang-ed) pembatal-pembatal ini pada tempat yang khusus (bagian tersendiri-ed) 
dalam kitab-kitab fiqh yaitu (hukum murtad). Di dalam setiap kitab dari kitab-kitab fiqh 
mereka membuat satu kitab yang mereka namakan Kitab Hukmil Murtad (kitab tentang 
hukum orang yang murtad) atau Bab Hukmil Murtad (bab tentang hukum orang yang 



murtad) baik dalam karya-karya yang panjang maupun yang ringkas. 

Para ulama berkata: Orang yang murtad adalah orang yang kafir setelah 
keislamannya, bisa jadi karena keyakinan hatinya atau keraguannya dalam perkara 
agama atau karena perbuatan, seperti sujud untuk selain Allah, menyembelih untuk 
selain Allah atau nadzar untuk selain Allah. Barangsiapa melakukan 
(perbuatan-perbuatan) ini berarti dia telah murtad. Atau karena ucapan seperti 
berbicara dengan mencela Allah, mencela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau 
mencela agama Islam. 


'j y jy ■ ■ ^aJj£ Aj AjIj! J ch L .j a Uajj ^ . /jj ]j 


"Katakanlah:Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu 
berolok-olok, tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir setelah 
keimanan kalian." (At Taubah: 65-66) 

Maka murtad itu bisa terjadi karena ucapan, perbuatan, keyakinan atau karena 
ragu terhadap suatu perkara dari agama ini, seperti orang yang ragu tentang wajibnya 
sholat, wajibnya zakat atau ragu dalam masalah tauhid, maka dia dikafirkan. Yang 
dimaksud dengan ragu adalah berbolak-balik diantara 2 (dua) perkara. 

Jenis-jenis murtad sangatlah banyak, dan Asy Syaikh rahimahullahmenyebutkan 
dalam risalah ini yang paling penting dan paling besarnya, kalau tidak demikian maka 
pembatal-pembatal keislaman itu sangatlah banyak, kalian akan mendapatinya dalam 
kitab-kitab Fiqh bab Hukum Murtad. Asy Syaikh Abdullah bin Muhammad rahimahullah 
memiliki risalah yang berjudul al Kalimatun Nafi’ah fil Mukaffirotil Waqi’ah 
(kalimat-kaliamt yang bermanfaat tentang perkara-perkara yang dapat mengkafirkan 
yang terjadi pada realita) dan risalah ini tercetak dalam Ad Duror As Saniyah dan yang 
selainnya. 

Saat ini, tatkala kebodohan telah tersebar dan keterasingan agama ini semakin 
kuat, sekelompok manusia yang menamakan diri mereka ulama memunculkan diri dan 
mengatakan: 

"Jangan kalian mengkafirkan manusia, cukup bagi mereka nama Islam, cukup 
baginya untuk mengatakan, "Saya seorang muslim”, walaupun dia berbuat apa saja, 
walaupun dia menyembelih untuk selain Allah, walaupun dia mencela Allah dan 
Rasul-Nya, walaupun dia berbuat apa saja selama dia masih mengatakan, "Saya 
muslim"! Maka jangan engkau kafirkan dia.” 

Atas dasar ini maka akan masuk ke dalam nama Islam kelompok-kelompok sesat 



seperti Al-Bathiniyah, Al-Qaramithah, Al-Quburiyun (para penyembah kubur), Ar 
Rafidhoh dan Al-Qodyaniyah, serta akan masuk ke dalam nama Islam seluruh kelompok 
yang mengaku Islam. 

Mereka mengatakan: 

"Janganlah kalian mengkafirkan seorangpun walaupun dia berbuat apa saja atau 
berkeyakinan apa saja, janganlah kalian memecah belah kaum muslimin." 

Subhanallah (Maha Suci Allah)!!! Kami tidak memecah belah kaum muslimin, akan 
tetapi mereka itu bukanlah muslimin, karena tatkala mereka melakukan 
pembatal-pembatal keislaman berarti mereka telah keluar dari Islam. 

Kalimat "janganlah kalian memecah belah kaum muslimin" adalah kalimat haq 
(benar) tapi yang diinginkan dengannya adalah kebatilan, karena para shahabat 
radhiyallahu 'anhum memerangi orang-orang arab yang murtad sepeninggal Rasulullah 
shallallahu alaihi wasallam. 

Para shahabat tidak ada yang mengatakan, 

"Jangan kalian memecah belah kaum muslimin", 

Karena mereka bukan muslimin lagi selama mereka masih murtad. Dan perkara 
ini lebih berat daripada engkau menghukumi orang kafir sebagai muslim, dan akan 
datang kepada kalian penjelasan bahwa termasuk kemurtadan adalah barangsiapa yang 
tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu tentang kekafirannya maka dia kafir seperti 
orang kafir tersebut. 

Mereka mengatakan: 

"Janganlah kalian mengkafirkan seorangpun walaupun dia berbuat apa saja 
selama orang tersebut masih mengucapkan Laa ilaaha illallah. Silahkan kalian 
menghadapi orang-orang atheis dan tinggalkanlah orang-orang yang mengaku Islam." 

Kita katakan kepada mereka: 

"Orang-orang yang mengaku Islam itu lebih berbahaya dari atheis, karena atheis 
tidak mengaku Islam dan tidak menganggap apa yang mereka lakukan adalah Islam. 
Adapun orang-orang yang mengaku Islam, mereka telah mengelabui, mereka 
menyerukan bahwa kekafiran itu adalah Islam, mereka itu lebih berbahaya daripada 
atheis, maka kemurtadan itu lebih berbahaya dari atheis -kita berlindung kepada 
Allah-." 

Maka wajib bagi kita mengetahui sikap yang benar terhadap perkara-perkara ini, 
kita membedakannya dan memperjelasnya, karena kita sekarang dalam kesamaran, di 



sana ada orang yang mengarang, menulis, mengkritik dan berpidato dan mengatakan: 
"Janganlah kalian mengkafirkan muslimin”. 

Kita katakan: "Kami mengkafirkan orang-orang yang keluar dari Islam” adapun 
muslim maka tidak boleh mengkafirkannya. 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari 10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh 
Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya 
Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (1): Syirik dalam Ibadah 
kepada Allah 


November 12, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata "Pembatal keislaman 
yang pertama: syirik dalam beribadah kepada Allah" 

Penjelasan: 

Perkara terbesar yang menjadikan seseorang murtad adalah syirik dalam 
beribadah kepada Allah yaitu dia beribadah kepada Allah juga beribadah kepada 
selain-Nya. Seperti menyembelih untuk selain Allah, nadzar untuk selain Allah, sujud 
kepada selain Allah, meminta pertolongan kepada selain Allah dalam perkara yang tidak 
mampu melaksanakannya melainkan hanya Allah. Ini adalah sebesar-besar jenis 
kemurtadan. 


Allah telah berfirman: 


a! jtxi j Ajkll A_ilc- Alii aULj y^ Ajj 


"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti 
Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka". (Al-Maidah 72) 


1 l-ojj aIIL y^a j yA AAA yj^ Ug a_j V aIII y\ 


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni 
segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa 
mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar". (An Nisaa: 
48) 

l-luu (JjJa a1]1_j yetj 


"Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah maka 
sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya".(An Nisaa: 116) 

Maka kesyirikan adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya, yaitu seseorang 



beribadah kepada selain Allah dengan salah satu dari macam-macam ibadah, seperti 
doa, menyembelih, nadzar, istighotsah (minta diselamatkan dari perkara yang sulit dan 
membinasakan), isti’anah (memohon pertolongan) dalam perkara yang tidak mampu 
untuk melaksakannya melainkan hanya Allah subhanahu wata’ala, berdoa kepada 
mayit, istighotsah kepada kuburan, meminta pertolongan kepada orang yang telah mati. 
Ini adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya dan paling besar, mayoritas orang 
yang mengaku Islam telah terjatuh padanya, mereka membangun kuburan dan thowaf 
padanya, menyembelih untuknya, bernadzar dan mendekatkan diri padanya. Mereka 
mengatakan bahwa hal ini dalam rangka mendekatkan diri mereka kepada Allah, 
mereka mendekatkan diri padanya dengan anggapan bisa mendekatkan diri mereka 
kepada Allah. 

Kenapa mereka tidak mendekatkan diri kepada Allah secara langsung dan 
meninggalkan tempat-tempat yang menyesatkan ini? Hendaknya mereka mendekatkan 
diri kepada Allah (secara langsung) karena sesungguhnya Allah itu maha dekat dan 
memenuhi permintaan. kenapa kalian mendekatkan kepada makhluk kemudian kalian 
mengatakan: "para makhluk itu mendekatkan diri kami kepada Allah”. Apakah Allah itu 
jauh?! 


Apakah Allah telah menutup pintu-pintu-Nya?! Apakah Allah tidak mengetahui 
dan tidak mendengar makhluk-Nya?! tidak melihat apa yang mereka kerjakan?! 

(Ketahuilah) Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi adalah dekat dan memenuhi 
permintaan. 

(jlc.3 131 ^1311 Sjc.3 3jjji I3)j 


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka 
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang 
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku". (Al-Baqarah: 186) 


^JC.3I JlSj 


"Dan Rabbmu berfirman: "Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan 
kuperkenankan bagi kalian". (Ghofir: 60) 


Sesungguhnya Allah adalah dekat dan memenuhi permintaan, kenapa kalian pergi 



dan berdoa kepada selain Allah?! Kemudian kalian mengatakan: hal ini bisa 
mendekatkan diri kami kepada Allah (hal ini seperti ucapan orang-orang musyrik yang 
dikisahkan Allah) 

"Kami tidak beribadah kepada mereka melainkan supaya mereka mendekatkan 
diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (Az Zumar: 3) 

Yakni seolah-olah kamu menganggap bahwa Allah tidak mengilmui dan 
mengetahui, demikianlah syetan dari kalangan jin dan manusia menghias-hiasi untuk 
mereka dalam keadaan mereka mengaku Islam, bersaksi bahwa tidak ada sesembahan 
yang hak melainkan hanya Allah, mereka sholat dan puasa akan tetapi mereka 
mencampuri amalan-amalan mereka dengan syirik besar maka mereka keluar dari 
agama islam dalam keadaan mereka sholat, puasa dan haji, orang yang melihat mereka 
menyangka bahwa mereka muslimin. 

Maka sudah sepantasnya mengetahui hal ini, bahwa syirik kepada Allah adalah 
dosa yang paling berbahaya dan paling besar. Bersamaan dengan bahayanya dan 
jeleknya syirik ini ternyata banyak dari orang-orang yang mengaku Islam telah terjatuh 
padanya, mereka tidak menamainya sebagai perbuatan syirik akan tetapi mereka 
menamainya sebagai tawasul atau meminta syafaat, atau mereka menamainya dengan 
nama-nama selain syirik, akan tetapi nama-nama itu tidak bisa merubah hakekat 
sesuatu, kalau perbuatan tersebut adalah syirik tetap kita katakan syirik (walaupun 
mereka menamainya dengan nama selain syirik). 

Ini (syirik) adalah jenis kemurtadan yang paling berbahaya dan paling banyak 
terjadi padahal syirik ini jelas di dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu 
alaihi wasallam. Seruan dan peringatan serta ancaman dari perbuatan syirik sangat 
jelas sekali, tidaklah lewat satu surat di dalam Al-Qur’an melainkan memperingatkan 
dari perbuatan syirik, bersamaan dengan ini mereka membaca Al-Qur’an, akan tetapi 
tidak menjauhi perbuatan syirik. 

Mungkin akan datang seseorang dan mengatakan: "Mereka adalah orang-orang 
bodoh, mereka mendapatkan udzur dengan kebodohan mereka tersebut." 


Maka kita katakan: 



Sampai kapan dia akan bodoh? Sedangkan Al-Qur’an dibacakan, mereka 
menghafal Al-Qur'an dan membacanya, sungguh telah tegak hujjah atas mereka dengan 
sampainya Al-Qur’an kepada mereka. 

yjffl I 3 a 'J\ ^Jj 

"Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar supaya dengannya aku memberi 
peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an kepada 
(mereka).” (Al-An'am: 19) 


Setiap orang yang telah sampai Al-Qur’an kepadanya, maka sungguh telah tegak 
hujjah atasnya dan tidak ada udzur baginya. 


Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, "Allah berfirman: 


I juju V^Lua J*la AllL LljLlj <j*j (■ Ulu (JaI dJj La jisuj LIjauj ,ji jisu V All) £jl 


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia 
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang 
dikehendaki-Nya." (An Nisaa': 116) 

Penjelasan: 

Aj y Ail! (jl 

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik." (An Nisaa’: 48) 

Ayat ini menunjukkan bahwa syirik adalah dosa yang paling besar, dimana Allah 
tidak akan mengampuni pelakunya, melainkan apabila dia mau bertaubat darinya. 

c^llj La jikjj 

"dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu." (An Nisaa’: 48) 

Dosa selain dari syirik seperti zina, minum khamr, mencuri, makan riba, ini semua 
selain dari syirik, dosa-dosa ini di bawah kehendak Allah, pelakunya adalah pelaku dosa 
besar dan mereka adalah orang-orang fasik, akan tetapi mereka tidak terjatuh dalam 
perbuatan syirik hanya saja mereka terjatuh dalam dosa-dosa besar dan hal ini 
mengurangi keimanan mereka dan mereka dihukumi dengan kefasikan. Seandainya 
mereka mati dan belum bertaubat maka mereka di bawah kehendak Allah. Jika Allah 


berkehendak maka Allah akan mengampuni mereka dengan tauhid yang ada pada 
mereka dan jika berkehendak maka Allah akan mengadzabnya disebabkan dosa-dosa 
mereka, kemudian tempat kembali mereka adalah jannah (surga) disebabkan tauhid 
yang ada pada mereka. Ini adalah tempat kembali para pelaku dosa besar selain syirik. 

Dan firman-Nya: 

"Dan Dia mengampuni segala dosa selain syirik." 

Ini menunjukkan bahwa seluruh dosa adalah di bawah syirik, sedangkan syirik 
adalah dosa yang paling besar dan paling berbahaya, maka hal ini menunjukkan tentang 
bahayanya syirik dan syirik adalah dosa yang paling besar. 

Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, Allah berfirman: 

(j A (jjAlUall Laj jlil! sljLaj AaaJ) All! AllL UjJuJ £yi All 

"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah. Maka 
pasti Allah mengharamkan kepadanya jannah dan tempat kembalinya adalah 
neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim seorang penolongpun." (Al-Maidah: 
72) 

Penjelasan: 

Ini adalah akibat di akhirat, yaitu diharamkan atasnya jannah, yakni dia terhalang 
untuk masuk jannah selama-lamanya, tidak ada baginya sesuatu yang diinginkan di 
dalamnya. 


Kemana dia akan pergi? Apabila dia tidak termasuk pendududk jannah, kemana 
dia akan pergi? Apakah dia akan menjadi sesuatu yang tidak ada?! Tidak! Tempat 
kembalinya adalah neraka yang dia kekal di dalamnya. 


^ . .ajf H j 


"Tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun." (Al-Maidah: 72) 

Yang dimaksud orang-orang zhalim adalah orang-orang musyrik. Karena syirik 
adalah kezhaliman, bahkan dia merupakan kezhaliman yang paling besar. 


Tidak ada bagi mereka (penolong) 


yaitu tidak ada seorangpun yang mampu mengeluarkan mereka dari neraka atau 
memberi syafa'at untuk mereka di sisi Allah, sebagaimana pelaku dosa besar diberi 
syafa’at dan mereka bisa keluar dari neraka dengan syafa'at. Adapun orang-orang 
musyrik (maka) tidaklah bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberi 
syafa’at. 

"Dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim" 


yaitu orang-orang musyrik 


V y -;All Uo 


"Dan bagi orang-orang zhalim itu tak ada teman setia seorangpun dan tidak (pula) 
mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya" (Al-Mukmin:18) 


Seorang musyrik tidaklah diterima syafa’at padanya -kita berlindung kepada 
Allah- 


hisii 


j 




"dan tempatnya adalah neraka" tempatnya yaitu tempat tinggalnya dan itulah 
sejelek-jelek tempat tinggal, tidak ada tempat tinggal baginya selain neraka 
selama-lamanya. 

Maka dosa yang demikian bahayanya dan sangat jelek akibatnya, apakah boleh 
pura-pura bodoh dan tidak mengetahuinya serta tidak memperingatkan darinya?! dan 
dikatakan: "biarkanlah manusia, biarkan para penyembah kubur, para penyembah 
kubah-kubah, biarkan orang-orang yang ada perkara-perkara kemurtadan padanya 
selama dia masih mengaku Islam, maka dia seorang muslim dan hadapilah orang-orang 
Atheis." 


Maka kita katakan: 

Mereka (orang-orang musyrik) lebih besar dan lebih berbahaya daripada 
orang-orang Atheis. 

Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata "Dan termasuk dari 
perbuatan syirik adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti menyembelih 
untuk jin dan kubur" 


Penjelasan: 


Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan contoh ini 
karena ini banyak terjadi dan manusia bermudah-mudahan padanya, mereka 
menyembelih untuk selain Allah, mereka menyembelih untuk jin dalam rangka menjaga 
diri dari kejelekan mereka, juga dalam rangka berobat dan penyembuhan. 

Kebanyakan manusia bermudah-mudahan dalam masalah ini dan ini banyak 
terjadi, padahal ini adalah syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari agamanya 
dan ini bukan perkara yang mudah. Syetan akan berkata kepadanya: "Sembelihlah 
seekor anak domba, sembelihlah seekor ayam", ini adalah (perkara yang) mudah, tetapi 
dia tidak melihat kepada syirik. Maka orang-orang yang menyembelih seekor lalat 
(untuk selain Allah) masuk neraka, yang dilihat bukanlah yang disembelih, tetapi yang 
dilihat adalah akidah (keyakinan)nya, yang dilihat adalah niat dalam hati dan tidak 
memperhatikan perkara syirik. Yang dilihat bukanlah nilai sesuatu yang disembelih, 
karena yang menyembelih seekor lalat (untuk selain Allah) masuk neraka. 

Manusia bermudah-mudahan dalam hal ini, hanya sekedar ingin ditunaikan 
kebutuhannya atau agar syetan memberitahunya sesuatu yang tersembunyi atau 
memberitahu tentang harta yang hilang atau yang selainnya dari perkara-perkara yang 
manusia bertanya kepada jin tentangnya. Maka dia keluar dari agamanya -kita 
berlindung kepada Allah- dia murtad dalam perkara yang dia anggap mudah, padahal 
perkaranya sangat berbahaya. 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (2): Menjadikan Perantara 
antara dia dan Allah dalam Peribadahan 


November 14, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Barangsiapa menjadikan antara dia dengan Allah perantara-perantara di 
mana dia berdoa, meminta dan bertawakal kepada mereka, maka dia telah kafir 
secara ijma' 

Penjelasan: 

Ini adalah salah satu dari jenis pembatal yang pertama, yaitu orang yang 
menjadikan antara dia dengan Allah ada perantara-perantara, akan tetapi Asy Syaikh 
rahimahullah memisahkannya dan menjadikannya sebagai pembatal keislaman yang 
tersendiri disebabkan banyak tejadinya perbuatan ini. Hal ini terjadi pada orang-orang 
yang mengaku Islam dan ini banyak terjadi pada para penyembah kubur; mereka 
mendekatkan diri kepada wali agar memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah atau 
agar menyampaikan kebutuhan-kebutuhan mereka kepada Allah -dengan persangkaan 
mereka- menjadikan perantara-perantara dari selain Allah subhanahu wata’ala, 
menyembelih untuk mereka, nadzar untuk mereka dan istighotsah dengan mereka. 

Dan dia mengatakan: "Ini bukanlah syirik, ini hanyalah perantara, mencari 
perantara dan syafa’at yang bisa menyampaikanku kepada Allah. Ini adalah orang sholih 
yang punya kedudukan di sisi Allah, maka aku mendekatkan diri kepadanya agar dia 
mendekatkan diriku kepada Allah." Ini adalah hujjahnya dan itu merupakan hujjah 
orang-orang musyrik yang terdahulu: 

"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak 
beribadah kepada mereka, melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah 
dengan sedekat-dekatnya." (Az Zumar: 3) 

Mereka mengatakan: kami tidak menjadikan mereka sebagai tandingan bagi Allah, 
akan tetapi kami menjadikan mereka sebagai perantara yang mendekatkan diri kami 



(kepada Allah), padahal Allah telah menamainya sebagai syirik (Allah berfirman): 


J y UaJ Alii Ac- tj ji xA ijjljSJj ~ ° xA J Vj V Ua Alii (jjJ (j-a Ij 

LaC. ^Uuj A jl ^aaa ( _ 5 ^ V J Clll jLaa-all 


"Dan mereka beribadah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan 
kemadharatan kepada mereka dan tidak (pula) mendatangkan kemanfaatan, dan 
mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa’at kami di sisi Allah." Katakanlah: 
"Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahuinya baik di langit 
dan di bumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka 
mempersekutukan (itu).” (Yunus: 18) 

Allah telah menamainya sebagai perbuatan syirik sedangkan mereka menamainya 
meminta syafa’at. Ini adalah realita yang terjadi, bahwasanya kebanyakan orang yang 
mengaku Islam dan apa yang mereka lakukan terhadap kuburan-kuburan sekarang, 
mereka menjadikannya sebagai perantara antara mereka dengan Allah. 

Masalah ini tersamar atas kebanyakan orang, bahkan para penuntut ilmu dan di 
sana ada para ulama yang membela mereka dan mengatakan: "perkara ini bukanlah 
syirik, yang dimaksud syirik adalah beribadah kepada berhala dan mereka ini tidaklah 
beribadah kepada berhala." 

Ya Subhanallah, beribadah kepada berhala adalah salah satu jenis dari jenis-jenis 
perbuatan syirik. Yang dinamakan syirik adalah beribadah kepada selain Allah sama, 
saja apakah yang diibadahi berupa berhala, pohon, batu, kuburan, wali, malaikat 
ataupun orang-orang sholih, ini semua adalah syirik dan tidaklah yang dimaksud syirik 
itu hanya beribadah kepada berhala saja. 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (3): Tidak Mengkafirkan 
Orang Kafir 


November 17, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Pembatal Ketiga: 

Barangsiapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu tentang 
kekafiran mereka atau membenarkan madzhab mereka, maka dia telah kafir. 

Penjelasan: 

Masalah ini sangat berbahaya, banyak dari orang-orang yang menisbatkan diri kepada 
Islam terjatuh padanya (barangsiapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik) seperti 
mengatakan: "Saya, alhamdulillah tidak ada kesyirikan pada diri saya dan saya tidak 
berbuat syirik kepada Allah. Akan tetapi manusia (yang berbuat syirik) aku tidak 
mengkafirkan mereka." 

Kita katakan kepadanya: 

Kamu tidak tahu agama ini, wajib bagimu untuk mengkafirkan orang yang telah 
Allah kafirkan dan yang telah berbuat syirik kepada Allah, wajib bagimu untuk berlepas 
diri darinya sebagaimana Nabi Ibrahim telah berlepas diri dari bapaknya dan kaumnya, 
beliau berkata (seabagaimana dalam ayat berikut ini): 

"Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, tetapi (aku 
beribadah kepada) Dzat yang telah menciptakanku, karena sesungguhnya Dia akan 
memberi hidayah kepadaku." (Az Zukhruf: 26-27) 

(atau membenarkan madzhab mereka) ini lebih berbahaya, apabila dia 
membenarkan madzhab mereka atau mengatakan terhadap apa yang mereka perbuat: 
perlu dilihat dulu, ini kan hanya menjadikan perantara-perantara. Atau dia mengatakan: 
"Mereka adalah orang-orang bodoh, mereka terjatuh dalam perkara ini karena 
kebodohan mereka," dan dia membela mereka. Maka orang seperti ini kekafirannya 



lebih dahsyat dibandingkan orang-orang yang melakukan perbuatan syirik tersebut, 
karena dia membenarkan kekufuran dan kesyirikan atau ragu tentangnya. 


Kita katakan kepada mereka: 

Keadaanmu sebagai seorang muslim dan pengikut Rasul shallallahu alaihi wasallam, 
sedangkan Rasul shallallahu alaihi wasallam datang dengan mengkafirkan kaum 
musyrikin dan memerangi mereka serta menghalalkan harta dan darah mereka, beliau 
bersabda: 

A\ Vl ;!jljLl ^Ull cJllf 

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia agar mereka mengucapkan laa 
ilaaha ilallah.” 


ail I Aix-j “j'"". 1 


^ ► * 

c. \\x \ 


“Aku diutus sampai hanya Allah saja yang diibadahi." 

Ajj 3 (jjSj y jljlS j 

"Dan perangilah mereka sampai tidak terjadi fitnah.” (Al-Anfal: 39) 

Yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah syirik. 

A& (jAll (jj&j 


"Dan sampai agama ini seluruhnya untuk Allah.” (Al-Anfal: 39) 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (4): Berhukum dengan selain 
Hukum Allah 


November 18, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 


Pembatal Keempat: 

Barangsiapa meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallahu alaihi 
wasallam adalah lebih sempurna dari petunjuk beliau, atau hukum selain hukum 
beliau lebih baik dari hukum beliau, seperti orang yang lebih mengutamakan 
hukum para thaghut atas hukum beliau, maka dia telah kafir. 

Penjelasan: 

Termasuk dari jenis-jenis kemurtadan adalah berhukum dengan selain hukum 
yang telah Allah turunkan, apabila dia meyakini bahwa ini adalah perkara yang 
diperbolehkan, boleh berhukum dengan syari'at ini dan boleh berhukum dengan 
undang-undang (buatan manusia). Dan mengatakan: "Tujuannya adalah melepaskan 
dari perselisihan-perselisihan dan hal ini bisa dicapai dengan undang-undang buatan 
manusia dan bisa pula dengan syari'at ini, maka perkaranya sama saja." 

Kita katakan: 


Subhanallah, engkau menjadikan hukum thaghut sama seperti hukum Allah!! 
Berhukum dengan syari'at Allah adalah merupakan ibadah kepada Allah subhanahu 
wata’ala, tidaklah tujuannya hanya sekedar melepaskan dari perselisihan, tujuan 
darinya adalah beribadah dengan berhukum kepada syari'at Allah. Berhukum dengan 
selain syari’at Allah adalah syirik, syirik dalam ketaatan dan syirik dalam berhukum: 




"Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk 
mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (Asy Syura: 21) 



"Dan jika kalian mentaati mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi 
orang-orang yang musyrik." (Al-An’am: 121) 


V] V l.i^l j l_gjj I il VI IHi j j aIII (jjj (j-a ^ 

l ' ‘* L> ' ^ *' r ~- A j l *>• A ‘ 11 


EE "Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai 
rabb-rabb selain Allah dan (mereka juga menjadikan rabb) Al-Masih bin Maryam, 
padahal mereka tidak diperintah melainkan agar beribadah kepada sesembahan yang 
satu. Tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari 
apa yang mereka persekutukan." (At Taubah: 31) 

Maka Allah telah menamai yang menyamakan antara hukum Allah dengan hukum 
thaghut sebagai syirik. Yang dimaksud thaghut adalah seluruh hukum selain hukum 
Allah, sama saja apakah berupa undang-undang Perancis atau Inggris ataupun 
kebiasaan kabilah-kabilah, semua ini adalah thaghut, demikian pula berhukum kepada 
para dukun. 

Adapun orang yang menyatakan bahwa keduanya adalah sama, maka dia telah 
kafir. Dan yang lebih berat kekafirannya dari orang tersebut adalah yang mengatakan: 

"Sesungguhnya berhukum dengan hukum selain Allah adalah lebih baik daripada 
berhukum dengan hukum Allah." 

Orang seperti ini lebih dahsyat kekafirannya. 

Dan yang mengatakan: 

"Manusia pada hari ini tidak ada yang bisa membuat baik mereka melainkan 
peraturan-peraturan ini, adapun syari'at ini tidak bisa memperbaiki mereka, syari’at ini 
tidak cocok dengan zaman ini, tidak sesuai dengan saat ini, tidak ada yang bisa 
memperbaiki melainkan berhukum dengan undang-undang tersebut dan perjalanan 
dunia ini ... pengadilan-pengadilan kita seperti pengadilan-pengadilan dunia, ini lebih 
baik dari hukum Allah.” 


Maka orang ini lebih berat kekafirannya dari orang yang mengatakan: 


Sesungguhnya hukum Allah dan hukum selain-Nya sama. 



Namun apabila dia berhukum dengan selain hukum Allah karena hawa nafsunya 
atau kebodohan tentang apa yang Allah turunkan, dalam keadaan dia meyakini bahwa 
hukum Allah adalah adalah benar dan berhukum dengan hukum Allah itulah yang wajib, 
maka orang ini telah melakukan dosa besar dan itu adalah kufur di bawah kekafiran 
(yaitu kekafiran yang tidak sampai keluar (murtad) dari agama ini-ed). 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (5): Membenci Ajaran Rasul 
walaupun Mengamalkannya 


November 19, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Pembatal kelima: 

Barangsiapa membenci sesuatu yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi 
wasallam walaupun dia mengamalkannya, maka dia telah kafir 

Penjelasan: 

Yang kelima dari pembatal-pembatal keislaman adalah barangsiapa membenci 
sesuatu dari apa yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka membenci 
apa yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah kemurtadan, walaupun 
dia melakukannya. 

Allah subhanahu wata’ala berfirman: 

"Yang demikian karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan 
Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka." (Muhammad: 9) 

Yang dimaksud dengan tidak suka (^') adalah membenci ini adalah 

kemurtadan, walaupun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir. 
Kebenciannya di dalam hati adalah kekafiran walaupun secara dhohir dia 
mengamalkannya. 

"Yang demikian karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan 
Allah (Al-Qur’an) lalu Allah menghapuskan amalan-amalan mereka." (Muhammad: 9) 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 




Pembatal Keislaman (6): 
Perkara Agama 


Mengolok-olok 


November 20, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Pembatal keenam: 

Barangsiapa memperolok-olok (mengejek) sesuatu dari agama Rasul shallallahu 
alaihi wasallam (Islam) atau mengejek pahala Allah atau siksa-Nya, maka dia 
telah kafir 


Penjelasan: 

Yang keenam dari jenis-jenis kemurtadan adalah memperolok-olok terhadap yang telah 
Allah turunkan atau menghina sesuatu yang dibawa Rasulullah shallallahu alaihi 
wasallam meskipun hal itu termasuk perkara-perkara yang disunnahkan dan 
dianjurkan seperti bersiwak, memotong kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong 
kuku, Apabila seseorang memperolok-oloknya, maka dia menjadi kafir. Dalil yang 
menunjukkan hal tersebut adalah firman Allah subhanahu wata’ala: 


.33 I jj4*J V * j “d j Allljf Ja L-lxlj j cLj IjS I2jl jSj] (jjl J 


"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) 
tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan 
bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya 
kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir 
sesudah beriman." (AtTaubah: 65-66) 

Maka orang yang memperolok-olok sedikit saja dari perkara yang dibawa oleh 
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam baik perkara tersebut perkara yang fardhu 
ataupun sunnah, maka sungguh dia telah menjadi murtad dari agama Islam. 

Lalu apa pendapat kalian terhadap orang yang mengatakan: "Membiarkan jenggot, 
merapikan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencuci jari-jari, ini semua adalah kulit 
luar saja." Ini adalah pengolok-olokan terhadap agama Allah. 

Apabila mereka mengucapkan hal ini, walaupun mereka mengamalkannya maka 



sungguh mereka telah murtad dari agama ini, karena ini adalah sikap meremehkan 
terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka yang wajib 
bagi kita adalah mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan 
memuliakannya, sampaipun apabila seorang manusia terjatuh dalam suatu perkara 
yang menyelisihi agama ini karena hawa nafsunya, maka seharusnya dia tetap 
menghormati sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan memuliakan sunnah 
serta memuliakan hadits-hadits dan tidak mengatakan "ini hanya kulit luar saja." 


Dan dalilnya firman Allah: 


Jxj JS IjjJjsu V * (jjj jgILiu AjLjI j jjfl > .ulij laS Uojj jJhi ■■■ U^J 

^SjLaj] 


"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan 
itu) tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau 
dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan 
Rasul-Nya kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh 
kalian telah kafir sesudah beriman." (At Taubah: 65-66) 


Penjelasan: 

Sebab turun ayat ini, bahwasanya ada sekelompok manusia yang dahulu bersama 
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam perang Tabuk dan mereka adalah 
muslimin, kemudian dalam suatu majelis mereka mengatakan: "Kita tidak pernah 
melihat seperti para qurro’ (pembaca-pembaca) kita ini yang paling dusta lisannya, 
paling buncit perutnya (paling rakus dalam makan), paling penakut ketika bertemu 
musuh", mereka memaksudkan dengan ucapannya itu adalah Rasulullah shallallahu 
alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dan bersama mereka ada seorang pemuda dari 
kalangan sahabat, maka dia marah dengan ucapan mereka ini, kemudian dia pergi dan 
menyampaikan apa yang diucapkan kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi 
wasallam dan dia mendapati wahyu telah turun mendahuluinya. 

Maka datanglah kaum tersebut kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk 
meminta maaf tatkala mereka mengetahui bahwa Rasullah shallallahu alaihi wasallam 
telah mengetahui apa yang terjadi pada majelis mereka. Dan berdirilah salah seorang 
dari mereka dan bergantungan di tali pelana onta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam 
dalam keadaan beliau mengendarainya, orang tersebut mengatakan: "Wahai Rasulullah 


sesungguhnya kami hanya berbincang-bincang untuk menghilangkan keletihan dalam 
perjalanan, kami tidak memaksudkan untuk memperolok-olok, kami hanya bersenda 
gurau," dalam keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak menoleh sedikitpun 
kepadanya dan beliau hanya membacakan atasnya ayat ini: 


A ^ ij .33 I jjpiiJ V *tjj' jg' J ch *•. l» Vi j i_K> Ij£ Uajl (ji jSj] jjj] j 


"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu) 
tentulah merela akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan 
bermain-main saja.” Katakanlah: "Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya 
kalian berolok-olok? Tidak usah kalian meminta maaf, karena sungguh kalian telah kafir 
sesudah beriman.” (AtTaubah: 65-66) 

Perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala: 


A'i l '„il axj ^ ia 


"sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” 

Ini menunjukkan bahwasanya sebelum ucapan ini mereka adalah orang-orang 
yang beriman, maka tatkala mereka mengucapkannya mereka menjadi murtad dari 
Islam. Padahal mereka mengatakan: "Ini hanya senda gurau" karena perkara-perkara 
agama ini tidak boleh dibuat senda gurau dan main-main. Sungguh Allah telah 
mengkafirkan mereka setelah keimanan mereka. Kita memohon keselamatan kepada 
Allah. 


Hal ini merupakan dalil bahwa barangsiapa mencela Allah, Rasul-Nya, 
Kitab-kitab-Nya atau sedikit saja dari Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah shallallahu 
alaihi wasallam, maka dia telah murtad dari Islam walaupun hanya senda gurau, lalu 
dimana orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya dia tidak murtad melainkan 
apabila dia telah meniatkan dari hatinya? Seandainya ada orang yang mencela Allah, 
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau Al-Qur’an, kita tidak boleh menghukuminya 
kecuali apabila dia meyakininya, kita tidak menghukuminya hanya semata-mata dengan 
ucapannya, lafadznya atau perbuatannya." 


Dari mana mereka mendatangkan ucapan semacam ini dan kertentuan ini?! 



Padahal Allah telah menghukumi mereka murtad sedangkan mereka mengatakan: 
"kami hanya bersenda gurau dan bermain-main" mereka orang-orang yang beriman 
kepada Allah dan Rasul-Nya serta bertauhid, akan tetapi tatkala mereka mengucapkan 
perkataan seperti ini Allah subhanahu wata’ala berfirman: 

A't l ~*<\ axj la 

"Sungguh kalian telah kafir sesudah beriman.” 


Dan Allah tidaklah berfirman: "jika kalian meyakini hal ini",kita memohon 
keselamatan kepada Allah. Maka yang wajib adalah kita mendudukkan perkara-perkara 
pada tempatnya dan tidak boleh memasukkan padanya tambahan-tambahan atau 
pengurangan atau ketentuan-ketentuan dari diri kita sendiri. 

Allah tidak bertanya tentang keyakinan mereka dan tidak menyebutkan bahwa mereka 
meyakininya, tetapi Allah menghukumi mereka dengan kemurtadan setelah keimanan 
mereka, 


A 'l 1 , Axj ^ 


"Sungguh kalian telah kafir sesudah iman." 

Allah sebutkan kekafiran mereka akibat dari ucapan mereka dan pengolok-olokan 
mereka dan Allah tidak mengaitkannya dengan ketentuan-ketentuan ini (harus atas 
dasar keyakinan mereka). Seorang manusia apabila mengucapkan kalimat kekafiran 
dalam keadaan dia tidak dipaksa maka dihukumi murtad, adapun apabila dia dalam 
keadaan dipaksa maka tidak murtad. 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (7): Sihir 


November 21, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Pembatal ketujuh: 

Sihir, dan termasuk dari sihir adalah ash shorf (memalingkan seseorang 
dari perkara yang disukainya) dan al athfu (menjadikan seseorang mencintai apa 
yang tidak disukai), barang siapa melakukannya atau meridhoinya, maka dia 
telah kafir. Dalilnya firman Allah subhanahu wata'ala: 

jlSu (jau Iaj] VjAj .i&i (jja (jUalu Laj 

"Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun 
sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu) sebab itu 
janganlah kamu kafir." (Al-Baqarah: 102) 

Penjelasan: 

Jenis ketujuh dari jenis-jenis kemurtadan adalah sihir. Sihir adalah suatu 
perbuatan yang dilakukan oleh tukang sihir, dan sihir itu ada 2 (dua) jenis: 

1. Sihir hakiki (secara hakikatnya) 

2. Sihir takhyili (pengkhayalan). 

Jenis yang pertama: sihir hakiki adalah ungkapan tentang buhu-buhul yang ditiup 
padanya oleh tukang sihir dan bacaan serta ucapan yang dijapu-japu (bacaan dan 
ucapan yang tidak jelas) dan tukang sihir tersebut minta bantuan syetan-syetan dalam 
ucapan mereka ini, juga jimat-jimat yang mereka menggantungkannya serta 
tulisan-tulisan dan mantera-mantera yang mereka menulisnya dengan nama-nama 
syetan. Ini adalah sihir hakiki, sihir ini bisa berpengaruh buruk kepada yang disihir, bisa 
jadi dengan membunuhnya atau menyakitinya serta mengacaukan ingatannya. 

Jenis kedua: sihir takhyili yaitu dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang 
dikhayalkan kepada manusia bahwa perkara tersebut adalah benar padahal tidak benar. 



Seperti dia mengkhayalkan kepada manusia bahwa dia berubah menjadi hewan atau 
membunuh seseorang kemudian menghidupkannya, memotong kepala mereka 
kemudian mengembalikannya, menarik mobil dengan rambut atau giginya, dia dilindas 
mobil dan tidak membahayakannya, dia masuk ke dalam api atau makan api, menikam 
dirinya dengan besi atau menusuk matanya dengan besi panas atau dia makan kaca. 
Semuanya ini adalah termasuk jenis sulapan yang tidak ada hakekatnya, seperti 
sihirnya para tukang sihir Fir’aun. 

Allah subhanahu wata’ala berfirman: 

A J ^ ‘ • L>^ ) 


"Dikhayalkan kepadanya (Musa) seakan-akan tali-tali itu merayap dengan cepat, 
lantaran sihir mereka." (Thoha: 66) 


Allah subhanahu wata’ala juga berfirman: 






"Mereka menyulap (menyihir) mata-mata manusia dan menjadikan orang banyak 
itutakut." (Al-A’raf: 116) 

Ini adalah sihir takhyili dan ini mereka namakan dengan al qumroh (warna putih 
yang ada kekeruhan) yang diperbuat oleh tukang sihir terhadap mata-mata manusia, 
kemudian apabila telah habis al qumroh, maka perkara-perkara itu akan kembali pada 
hakekat yang sebenarnya. 

Perbuatan sihir ini adalah kufur, dalilnya firman Allah subhanahu wata’ala: 


"Akan tetapi syetan-syetan itulah yang kafir (mengerjakan sihir), mereka 
mengajarkan sihir kepada manusia." (Al-Baqarah: 102) 

Mempelajari sihir dan mengajarkannya adalah kufur kepada Allah dan termasuk 
jenis kemurtadan, maka tukang sihir adalah murtad, apabila dia seorang mukmin 
kemudian berbuat sihir sungguh dia telah murtad dari agama Islam dan dia dibunuh 
tanpa dimintai taubat terlebih dahulu menurut sebagian ulama, karena walaupun dia 
telah bertaubat secara dhohir dia tetap menipu manusia dan tidak akan hilang ilmu 



sihir dari hatinya walaupun dia telah bertaubat. Dalilnya firman Allah subhanahu 
wata’ala: 


Uajj .1^1 (j-o ijLalxJ Ua j dj^)Ua j 


"Sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum 
mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu) sebab itu janganlah kamu 
kafir." (Al-Baqarah: 102) 

Allah subhanahu wata’ala menurunkan dua malaikat dari langit yang mengajarkan 
sihir sebagai cobaan dan ujian bagi manusia, apabila ada yang datang kepada keduanya 
untuk belajar sihir, mereka berdua menasehatinya dan berkata kepadanya: 
"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu) sebab itu janganlah kamu kafir." Yakni 
janganlah kamu mempelajari sihir. Maka hal ini menunjukkan bahwa mempelajari sihir 
adalah kafir. 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (8): Membantu dan menolong 
kaum kafir untuk memusuhi muslimin 


November 23, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 


Pembatal Kedelapan: Membantu dan menolong kaum kafir untuk memusuhi 
muslimin 


Penjelasan: 

Yang kedelapan dari jenis-jenis kemurtadan adalah mudhoharoh (membantu) kaum 
musyrikin untuk memusuhi muslimin yakni menolong mereka. Al-Mudhoharoh 
maknanya al Mu’awanah (menolong) yaitu dengan menolong orang-orang kafir untuk 
memerangi muslimin dan menyakiti mereka. 

Demikian pula orang yang mencintai orang-orang kafir, sungguh dia menjadi kafir 
karena ini merupakan bentuk loyalitas. 

~ ^ Ajli yjj j 


"Barangsiapa diantara kalian berwala' (loyal) kepada mereka maka sesugguhnya 
orang itu termasuk golongan mereka." (Al-Maidah: 51) 

Berloyalitas kepada mereka dengan saling menolong dan membantu atau dengan 
kecintaan maka sungguh dia menjadi kafir, karena dia mencintai kekafiran dan 
mencintai orang-orang kafir, dengan demikian dia menjadi kafir. 

Apabila dia mencintai mereka maknanya dia tidak mengingkari kekafiran dan 
barangsiapa yang tidak mengingkari kekafiran maka dia kafir. 


Dan dalilnya firman Allah subhanahu wata'ala: 








"Barangsiapa diantara kalian berwala' (loyal) kepada mereka maka 
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka, sesungguhnya Allah tidak 
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim" (Al-Maidah: 51) 



Penjelasan: 


Awal ayat ini: 

S-U] jt (_g j' ■ .gill J 3I V I _jld jjjAll l^jl ^ 

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan orang-orang 
Yahudi dan Nashrani sebagai wali-wali.” (Al-Maidah: 51) 

Yaitu janganlah kalian berwala’ kepada mereka, tidak membantu mereka, tidak 
mencintai mereka dan tidak menolong mereka. 

"Barangsiapa diantara kalian berwala’ (loyal) kepada mereka" yakni dari kalangan 
muslimin "maka sesugguhnya orang itu termasuk golongan mereka" yakni menjadi 
Yahudi dan Nashrani, dan inilah dalil atas kemurtadannya. Kemudian Allah berfirman: 

"sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” 
maka Allah telah menamai mereka sebagai orang-orang zhalim. 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (9): Menyatakan Bolehnya 
Keluar dari Syariat 


November 24, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh : Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Pembatal kesembilan: Menyatakan Bolehnya Keluar dari Syariat 

Barangsiapa meyakini bahwa ada sebagian manusia yang boleh keluar dari 
syari'at Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagaimana dibolehkan bagi 
Al-Khidr keluar dari syari'at Musa alaihissalam, maka dia telah kafir 

Penjelasan: 

Yang kesembilan: barangsiapa membolehkan bagi seseorang untuk keluar dari syari'at 
Muhammad shallallahu alaihi wasallam, karena Allah mengutus Muhammad shallallahu 
alaihi wasallam kepada seluruh manusia dan mewajibkan kepada seluruh alam ini 
untuk taat kepada beliau shallallahu alaihi wasallam. 

j Vj iV. . J\ Ua j 

"Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi 
semesta alam." (Al-Anbiya: 107) 

"Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya 
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan." (Saba': 28) 

^ (J^jl lj (J3 

"Katanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian 
semua." (Al-A’raaf: 158) 

Maka barangsiapa tidak memenuhi panggilan dan tidak mengikuti Rasul ini maka 
dia kafir, sama saja apakah dia seorang Yahudi, Nashrani, Majusi atau beragama yang 
lainnya, karena dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam Allah 



telah mewajibkan untuk taat kepadanya dan mengikutinya, barangsiapa berada di atas 
agama Yahudi atau Nashrani. maka sungguh agama-agama tersebut telah dihapus 
dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka tidak boleh bagi 
seorangpun untuk keluar dari ketaatan kepada beliau shallallahu alaihi wasallam. 

Adapun keluarnya Al-Khidr dari ketaatan kepada Nabi Musa karena Nabi Musa 
tidak diutus kepada Al-Khidr, juga karena risalah Nabi Musa adalah khusus untuk Bani 
Israil: 


J Jib z ^_Li y yj ^1 ? ^ Jla 


"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Wahai kaumku, mengapa 
kalian menyakitiku sedangkan kalian mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah 
utusan Allah kepada kalian." (Ash Shoff: 5) 

Maka risalah Nabi Musa hanya untuk Bani Israil, tidak untuk seluruh manusia. 
Adapun Al-Khidr telah berada di atas jalan beribadah kepada Allah. 

Para ulama berbeda pendapat tentang Al-Khidr: Apakah dia seorang Nabi ataukah 
seorang yang sholih. Perbedaan pendapat ini terbagi menjadi 2 (dua) pendapat: 

1. Al-Khidr adalah seorang Nabi, karena dia melakukan perkara-perkara yang 
tidak bisa dilakukan melainkan dengan mukjizat seperti dia melubangi perahu, 
membunuh seorang anak dan menegakkan dinding yang hampir roboh, 
perkara-perkara ini adalah mukjizat karena dibangun di atas perkara-perkara yang 
ghoib, sedangkan mukjizat tidaklah terjadi melainkan pada diri seorang Nabi. 

Asal kisah Musa bersama Khidr adalah bahwa Musa pernah berkhutbah di 
hadapan Bani Israil kemudian mereka bertanya: "Apakah di sana ada orang yang lebih 
'alim darinya," Nabi Musa menjawab: "Tidak ada." Allah mewahyukan kepada beliau 
bahwa ada seorang hamba Allah di suatu negeri yang memiliki ilmu yang tidak engkau 
miliki, maka Nabi Musa pergi mencari orang tersebut untuk menuntut ilmu itu. 


Allah berfirman: 










Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti 



(berjalan) sebelum sampai di pertemuan dua buah lautan atau aku akan berjalan 
bertahun-tahun" (dia safar) 

"maka tatkala keduanya sampai di pertemuan dua buah laut itu” sampai firman 

Allah: 


La-o (j-alxj <jt liLuji ( Jis Al (Jls *Uo3e. IjJ <j-a oILoIej UAe <j-o “La^j oljjjl UjUe (j-o I-Aje j3 


' 1..V j 


"Lalu keduanya bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami 
yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepada al Khidr: 
"Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar 
diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? (Al-Kahfi: 60-66) sampai akhir 
kisah yang Allah sebutkan di dalam surat al Kahfi. 

Maka al Khidr tidak termasuk umat Nabi Musa, karena Nabi Musa tidak diutus 
kepada seluruh manusia, oleh karena itu diperbolehkan bagi al Khidr untuk keluar dari 
syari’at Nabi Musa. 

Adapun Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam beliau diutus kepada seluruh 
manusia maka tidak boleh bagi seorangpun keluar dari syari’atnya dan ini adalah 
bantahan kepada Ash Shufiyah yang menganggap bahwa mereka sampai pada suatu 
keadaan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti para rasul, mereka menganggap 
bahwa mereka mengambil dari Allah secara langsung tidak perlu mengambil dari rasul. 

Mereka mengatakan: "Bahwa para rasul itu hanya untuk orang-orang awam, 
adapun orang-orang khusus mereka tidak butuh kepada para rasul karena mereka telah 
ma’rifatullah dan sampai kepada-Nya serta mengambil dari Allah secara langsung.” 

Ini adalah keadaan Shufi ekstrim, (mereka menganggap) bahwa mereka sampai 
pada suatu keadaan yang tidak membutuhkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam 
sehingga mereka keluar dari syariat beliau, oleh karena itu mereka tidak shalat, tidak 
puasa dan tidak berhaji serta tidak mengamalkan apa yang dibawa oleh Rasulullah 
shallallahu alaihi wasallam, karena mereka adalah orang-orang khusus. Mereka 
mengatakan: "Kami tidak butuh kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kami 
telah sampai kepada Allah.”-kita memohon keselamatan kepada Allah-. 



Ini adalah tujuan Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dari menyebutkan 
masalah ini dan ini adalah bantahan terhadap shufiyah yang mereka beranggapan 
bahwa mereka boleh keluar dari syariat Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena 
mereka tidak butuh kepada beliau. 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (10): Berpaling dari Agama Allah 


November 25, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Pembatal kesepuluh: Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan 
tidak mengamalkannya 

Penjelasan: 

Yang kesepuluh -dan ini yang terakhir- yaitu berpaling dari agama Allah, tidak 
perhatian kepadanya, tidak mempelajarinya, kalaupun dia mempelajarinya tetapi tidak 
mau mengamalkannya. Pertama dia berpaling dari ilmu, kemudian berpaling dari amal 
-kita memohon keselamatan kepada Allah- sehingga walaupun seseorang beramal akan 
tetapi tidak didasari ilmu maka amalannya adalah sesat, oleh karena itu seseorang 
harus belajar terlebih dahulu baru kemudian beramal. Adapun orang yang telah 
memperoleh ilmu kemudian meninggalkan amal, maka dia termasuk orang-orang yang 
dimurkai dan barangsiapa beramal tetapi meninggalkan ilmu, maka dia termasuk 
orang-orang yang sesat. 


Perkara inilah yang kita selalu berlindung darinya kepada Allah pada setiap 
raka'at: 


'jjt . S/ j hr 1 J L CllAXji lal 




I b\yL*al\ ljAi \ 


"Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau 
beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (yahudi) dan bukan 
(pula jalan) mereka yang sesat (nashrani)." (Al-Fathihah: 6-7) 

Barangsiapa berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak mau 
mengamalkannya, maka sungguh dia menjadi murtad dari agama Islam. Allah 
subhanahu wata’ala berfirman: 

AjjaJXX aJ jli j 

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Kitab-Ku), maka sesungguhnya 
baginya penghidupan yang sempit." (Thaha: 124) 





Berpaling dari peringatan-Ku adalah tidak mempelajarinya dan tidak 
mengamalkannya. 


Lgc- jjjll j 


"Dan orang-orang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka." 
(Al-Ahqaf: 3) 


UJ A U^ ' ir - i Aj j Cjljlj allal L j^ j 


"Dan siapakah yang lebih dzalim dari orang yang telah diperingatkan dengan 
ayat-ayat Rabbnya kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan 
memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (As Sajdah: 22) 

Dia berpaling darinya setelah diingatkan dengannya. 

Di sana ada manusia yang tidak mempelajari agama ini karena malas, orang 
seperti ini tidak dikafirkan tetapi dicela karena kemalasannya. Adapun apabila dia 
meninggalkan untuk menuntut ilmu karena tidak menyukai ilmu itu, maka inilah yang 
disebut berpaling dari ilmu dan kita berlindung kepada Allah (darinya), inilah yang 
dikafirkan. 


Apabila seseorang menyukai ilmu dan mencintainya akan tetapi dia malas karena 
menuntut ilmu itu sulit, membutuhkan kesabaran, menahan diri dan duduk (untuk 
menuntut ilmu) sedangkan dia malas, maka dia dicela atas kemalasannya dan 
peremehannya akan tetapi tidak sampai batas kekafiran. 

Dan dalilnya firman Allah: 

"Dan siapakah yang lebih dzalim dari orang yang telah diperingatkan 
dengan ayat-ayat Rabbnya kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami 
akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (As Sajdah: 
22 ) 

Penjelasan: 

Berpaling yang menunjukkan bahwa dia tidak menyukai ilmu atau membencinya 
ini adalah kekafiran dan kita berlindung kepada Allah (darinya). 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 


10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta) 



Pembatal Keislaman (Penutup) 


November 26, 2008 oleh Admin Ulama Sunnah 
Oleh: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan 

Tidak ada perbedaan pada seluruh pembatal ini antara orang yang bersenda 
gurau, bersungguh-sungguh dan orang yang yang takut kecuali orang yang 
dipaksa. Semua pembatal ini) adalah sebesar-besar perkara yang menyebabkan 
bahaya dan perkara yang paling banyak terjadi, maka sudah sepantasnya bagi 
seorang muslim untuk berhati-hati darinya dan mengkhawatirkan dirinya 
terjatuh dalam pembatal-pembatal keislaman ini -kita berlindung kepada Allah 
dari perkara-perkara yang menyebabkan kemurkaan-Nya dan pedih siksa-Nya- 

Penjelasan: 

Tidak ada perbedaan pada pembatal-pembatal yang sepuluh ini antara orang yang 
bersungguh-sungguh yaitu sengaja dengan ucapan dan perbuatannya dan orang yang 
bersenda gurau yaitu orang yang tidak sengaja hanya saja dia memperbuatnya karena 
bergurau dan main-main. Di sini ada bantahan terhadap al Murji'ah yang mengatakan: 
"Seseorang tidak dikafirkan sampai dia meyakininya dalam hati." Tidak ada perbedaan 
antara orang yang bersungguh-sungguh, bersenda gurau atau orang yang takut yang dia 
melakukan perkara-perkara ini dalam rangka menolak rasa takut, maka yang wajib 
atasnya adalah bersabar. 

(kecuali orang-orang yang dipaksa) apabila dia dipaksa untuk mengucapkan 
kalimat kekufuran dan tidak mungkin baginya untuk terbebas dari kedzaliman ini 
melainkan dengannya, maka Allah telah memberi keringanan baginya dalam masalah 
tersebut. 

j Vj 4-jUajj -IxJ ^'ja <1]Ij (j-a 

"Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat 
kemurkaan Allah) kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam 
beriman (dia tidak berdosa)." (An Nahl: 106) 

Sebagaimana hal ini terjadi pada 'Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu, yang sebab 



turun ayat di atas adalah padanya radhiyallahu 'anhu tatkala orang-orang kafir 
menangkapnya dan menyiksanya sampai dia mau berkata tentang Muhammad 
shallallahu alaihi wasallam, yakni mencela Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. 
Kemudian dia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan 
menyesal dan takut akan apa yang terjadi pada dirinya, maka nabi shallallahu alaihi 
wasallam bersabda kepadanya: 

"Bagaimana engkau dapati hatimu?" dia menjawab: "Tetap tenang dalam 
keimanan" beliau bersabda: "Apabila mereka mengulanginya, maka ulangilah!” 

dan Allah menurunkan firman-Nya: 

j (jjiala-o 4_jl9 j 


"Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman 
(dia tidak berdosa)." (An Nahl: 106) 




"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali-wali 
dan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbiuat demikian niscaya 
lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu 
yang ditakuti dari mereka." (Ali Imron: 28) 

(Kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang menyebabkan 
kemurkaan-Nya dan pedih siksa-Nya). Yaa Allah kabulkanlah. 

-Selesai- 

(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah http://www.ulamasunnah.wordpress.com dari 
10 Pembatal Keislaman, karya Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, penerjemah: Al-Ustadz Abu 
Hamzah Abdul Majid, Penerbit Cahaya Ilmu Press, Yogyakarta)